Jelang Muktamar, KH Mahali : NU Butuh Pemimpin Berani Lahirkan Terobosan Besar dan Inovatif
Ketua PWNU Riau KH Abdul Khalim Mahali menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kapasitas keilmuan agama yang kuat dan mampu menghadirkan terobosan besar bagi kemajuan organisasi dan umat.
"NU memerlukan pemimpin yang visioner. Selain handal berceramah, mengaji, fasih berbahasa arab dan memiliki keilmuan yang baik, pemimpin NU harus mampu menghadirkan terobosan besar. Kita harus mulai berpikir memiliki maskapai penerbangan, perbankan, serta membangun kemandirian ekonomi organisasi dan umat," tegas Kiayi Mahali kepada wartawan, Jumat (24/7) malam di Pekanbaru.
Ia meyakini potensi besar tersebut sangat mungkin diwujudkan mengingat jumlah warga Nahdliyin diperkirakan mencapai 115 juta jiwa. Bahkan, jika setiap warga memberikan kontribusi iuran sebesar Rp100 ribu, menurutnya akan terkumpul dana yang sangat besar untuk mendukung lahirnya berbagai unit usaha strategis milik NU untuk menyokong kemandirian ekonomi umat.
"Kalau warga NU yang jumlahnya sekitar 115 juta orang masing-masing berkontribusi Rp100 ribu saja, potensi dana yang terkumpul sangat besar. Itu bisa menjadi modal membangun NU Airline, perbankan NU. Selain itu, inventarisasi seluruh aset NU di Indonesia juga harus segera dilakukan karena nilainya sudah mencapai triliunan rupiah namun belum tertata dan dikelola secara profesional. Karena itu, NU membutuhkan pemimpin yang memiliki terobosan besar dan mampu mengelola seluruh potensi ini," tuturnya.
Menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35, menurutnya, semangat demokrasi di tubuh NU saat ini semakin tinggi dengan munculnya sejumlah tokoh yang siap mencalonkan diri sebagai ketua umum.
Hingga kini, PWNU Riau masih menunggu surat resmi dari PBNU terkait jumlah delegasi yang akan diutus ke Muktamar. Surat tersebut belum diterima karena PBNU masih melakukan perapihan Surat Keputusan (SK) kepengurusan PWNU di seluruh Indonesia sebelum undangan resmi disebarkan.
"Untuk persiapan, kami masih menunggu surat resmi dari PBNU mengenai jumlah delegasi yang akan dikirim. Saat ini PBNU masih merapikan SK kepengurusan seluruh Indonesia. Setelah selesai, baru undangan akan dikirim. Kalau mengacu pada Munas kemarin, delegasi maksimal enam orang dan penentuannya diserahkan kepada PW maupun PC masing-masing," ujarnya.
Terkait dukungan terhadap calon Ketua Umum PBNU, PWNU Riau belum menentukan sikap. Menurutnya, seluruh kandidat diberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan konstruktuf dan visi mereka sehingga warga NU dapat menilai secara objektif sebelum memberikan dukungan.
"Kami tidak akan mendukung seseorang tanpa mengetahui gagasan terbaik yang ditawarkan untuk kemajuan NU. Karena itu kami menunggu para calon datang bersosialisasi dan memaparkan programnya," katanya.
Sejauh ini, sejumlah nama mulai mencuat sebagai bakal calon Ketua Umum PBNU, di antaranya KH Yahya Cholil Staquf (petahana), KH Nasaruddin Umar (Menteri Agama RI), KH Zulfa Mustofa (Wakil Ketua Umum), KH Abdul Hakim Mahfudz ( Ketua PWNU Jawa Timur), KH Abdussalam Shohib ( Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar), KH Abdul Ghaffar Rozin (Ketua PWNU Jawa Tengah).
Menurut Ketua PWNU Riau, banyaknya figur yang muncul menunjukkan tingginya semangat demokrasi di lingkungan NU. Berbeda dengan Muktamar periode lalu, kali ini banyak calon yang merasa memiliki ide-ide konstruktif yang layak ditawarkan untuk kemajuan organisasi.
"Semangat demokrasi hari ini luar biasa. Calon Ketum memiliki gagasan konstruktif sehingga ingin tampil memimpin. Ini pertanda baik karena NU dipenuhi orang-orang yang ingin berkontribusi untuk kemajuan organisasi," ungkapnya.
Komentar Anda :