Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki ruang kenaikan yang besar.Presiden Maison Placements, John Ing, memproyeksikan logam mulia tersebut berpotensi menembus level US$ 6.000 per troy ounce dari kisaran saat ini yang berada di sekitar US$ 4.000 per troy ounce.
Mengutip Mining pada Sabtu (25/7/2026), John Ing menilai prospek kenaikan emas didorong oleh membengkaknya utang Amerika Serikat serta meningkatnya akumulasi emas oleh bank-bank sentral di berbagai negara.
Menurutnya, utang federal Amerika Serikat kini telah mencapai sekitar US$ 39 triliun, dengan beban bunga tahunan mendekati US$1 triliun. Kondisi tersebut, ditambah permintaan emas yang tetap kuat dari sektor resmi, diyakini akan menopang tren kenaikan harga logam mulia.
“Meskipun reli emas selama dua tahun telah mengalami jeda yang menyegarkan, kami percaya bahwa pasar bullish baru saja dimulai,” ungkap John Ing, yang juga dikenal sebagai veteran di bidang perbankan investasi.
Ia menegaskan optimisme tersebut dengan menyatakan:
“Kami terus memperkirakan emas akan mencapai US$ 6.000 ons troy ounce sebagai bagian dari pasar bullish," ucapnya.
Harga emas telah melonjak sekitar 68% sejak 2024, menjadikannya salah satu reli komoditas paling kuat dalam beberapa dekade terakhir.
John Ing menilai kenaikan harga emas hingga US$ 6.000 per troy ounce akan memberikan dampak positif bagi industri pertambangan.
Margin keuntungan produsen diperkirakan meningkat, arus kas bebas semakin kuat, dan aktivitas akuisisi berpotensi bertambah seiring upaya perusahaan menggantikan cadangan emas yang terus berkurang.
Di sisi lain, dominasi dolar Amerika Serikat dalam cadangan devisa global terus mengalami penurunan. Porsinya menyusut menjadi sekitar 54% pada kuartal I 2025, dibandingkan 71% pada 1999.
Selain itu, investor asing masih menguasai hampir US$ 10 triliun dari total pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat senilai sekitar US$ 32 triliun. Menurut John Ing, kondisi tersebut membuat Washington semakin rentan apabila permintaan investor asing terhadap surat utang pemerintah melemah di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan.
Ia juga menilai Federal Reserve (The Fed) memiliki ruang yang terbatas untuk menopang permintaan obligasi pemerintah melalui ekspansi jumlah uang beredar karena langkah tersebut berisiko memicu inflasi yang lebih tinggi.
Sementara itu, pembelian emas oleh bank-bank sentral terus menunjukkan tren meningkat. Pada kuartal I 2026, bank sentral global tercatat mengakumulasi 244 ton emas, kemudian menambah 41 ton lagi sepanjang Mei 2026.
Tidak hanya meningkatkan cadangan emas, sejumlah negara juga mulai memindahkan emas fisik dari brankas di New York dan London sebagai langkah mengurangi risiko sanksi serta ketidakpastian geopolitik.
John Ing menilai tren tersebut memang belum akan menggantikan dominasi dolar Amerika Serikat dalam waktu dekat. Namun, menurutnya, peran emas sebagai aset safe haven akan semakin penting seiring bertambahnya cadangan logam mulia yang dimiliki bank-bank sentral dunia.
Komentar Anda :